Muhsonsuburan’s Weblog

Juni 24, 2008

ojo rumongso

Diarsipkan di bawah: sastra — by muhsonsuburan @ 8:06 am
Tags:

Senin,19 Maret 2007. Mandori berangkat mengaji diba’an bersama Karom yang kebetulan maen ke rumah Mandori. Majlis diba’an itu bertempat di kantor Madrasah Ibtidaiyyah Futuhiyyah yang meski tidak seberapa luas, tetapi jika kursi-kursi di singkirkan cukuplah untuk menampung 15 orang. Diba’an itu memang belum begitu lama berjalan. Meski tertatih-tatih melaksanakannya, akhirnya berjalan juga kegiatan itu. Semua berlangsung seperti biasa tanpa ada yang janggal. Hingga sampailah pada akhir acara, yaitu pembacaan do’a yang seperti minggu-minggu sebelumnya, do’a itu dibawakan oleh Pak Budi. Dia adalah salah satu guru di sekolah tersebut-Meski dia hanya lulusan SMA. Pembacaan pun selesai. Layaknya orang pda umumnya yang suka mengunggul-unggulkan perutnya. Acara dilanjutkan dengan makan makanan ringan, tapi agak berat. Termasuk itu seperti aneka macam gorengan yang masih panas, karena kebetulan pada waktu membeli baru saja diangkat dari penggorengan. Katakanlah organisasi kecil yang terdapat beberapa orang yang agak terpelajar atau mungkin mengaku-ngaku terpelajar, pastilah setelah melakukan acara inti ada sesuatu yang dibicarakan menyangkut organisasi itu. Organisasi itu bernama ARISMA ( Aktivitas Remaja Masjid Al Amin ). Meski sebetulnya organisasi itu dulunya telah ada, tapi vakum selama beberapa tahun entah karena apa. Seakan pikiran ini merapuh, setelah diba’an itu selesai. Gendruk-penduduk kampung Suburan Timur- yang memang memiliki sikap kurang baik lantaran malas berangkat dan meski mau berangkat ke majlis dia tidak mau gantian membaca diba’an. Dia memang tidak lancar dalam membaca ditambah lagi teman-temannya yang sering meledek (nggasa’i.red ) dirinya yang mungkin membuat dia malu. Memang, kedatangannya begitu mencerahkan pikiran untuk bangkit. karena dia adalah salah satu orang yang harus dirangkul dalam hal mengaji. Sewaktu yang lain beres-beres, dia malah santai-antai saja, malah cenderung malas tuk mengemasi segala peralatan. Akhirnya Lek ( paman ) Yetno yang kebetulan masih bujang walau telah lapuk lantaran sudah berusia hampir 40 tahun , menyuruhnya untuk mencabut kabel microphone dari power. Gendruk bergeming, sesaat kemudian dengan muka penuh benci, Yetno menjatuhkan penutup kepala ( kupluk.red ) dengan tangan kanannya disertai cengkraman layaknya elang yang meu mencabik-cabik anak tikus yang tak berdaya. langsung seketika si Gendruk melontarkan kata “ASUIYA” -yang jelas sekali itu bukan bahasa jepang apalagi cina karena dia tidak tahu perihal kedua bahasa itu-kemudian dengan langkah sigap dia pulang kerumahnya yang ada di depan MI tersebut. Pemberontakan terjadi pada setiap sanubari yang ada di situ. Menggelegar layaknya guntur dalam badai yang sempurna. Menyambar sholawat dan lagu kedamaian Ramadhan. Yang ada dalam benak tiap orang adalah dia pasti marah dan sudah sangat berat sekali harapan untuk membuatnya meu berangkat dalam majlis lagi. Ironis memang sebuah kehidupan. Semua diam sembari mengatur napas menghela dalam-dalam hingga paru-paru sesak tak muat tuk terisi lagi. Tiadalah dia yang biasa diledek dalam hal apapun, baik masalah cewek, makanan, atau apalah yang bisa dibicarakan. Sedikit hampa tapi semua harus berjalan. Evaluasi dimulai dan berjalan seperti biasa, tapi tatkala Mandori mengaitkan lagi masalah keberlangsungan organisasi dengan masalah yang baru saja terjadi, karena menurut Mandori semua itu buat pelajaran kita semua. kita harus bisa menjaga kekompakan tim jika ingin majlis ini tetap berjalan. Majlis ini milik kita bersama. Harus ada yang legowo (mengalah.red ) salah satu. Secepat kilat Yetno menaggapi ” Kamu tidak usah mengurusi masalah kita, ini antara aku dan Gendruk. Kamu itu siapa kok berani-beraninya menasehati orang yang lebih tua”. Mandori merasa tersengat listrik 2 juta kilowatt. Dia masih bisa menahan amarah meski dalam batinnya ingin sekali dia membalas perkataan Yetno dan kalau perlu berkelahi juga tidak masalah. Dia menampikkan perasaannya dengan menulis SMS ekpresikan hatinya.

Juni 10, 2008

Apa Itu… ?

Diarsipkan di bawah: sastra — by muhsonsuburan @ 3:46 am
Tags: ,

Saat kubilang sastra
Tak mampu kumenganalisa
Kuberpikir puisi
Perutku melilit mau masuk kamar mandi
Bayangkan cerpen
Mulutku asik ciumi permen
Novel…Lambungku malah bawel
Kritik sastra feminis…
Berpikirku menipis
Terpotong tragis
Bacakan puisi
Makin aku kagak ngarti

Laskarku

Diarsipkan di bawah: sastra — by muhsonsuburan @ 3:41 am
Tags:

Laskarku
Penuh warna
Tapi bukan pelangi
Penuh rupa
Tapi bukan seni
Penuh suka duka
Tapi tanpa dupa
Harap cepat pakai toga
Bernapas ceria
Berambut tak rata
Silangkan kaki tanpa roda
Laskarku
Penuh noda
Bintik-bintik kemasaman
Kesinisan
Kembali dan ikuti jalan
Kawan
Laskarku
—suburan 100608—

Satu Lagi

Diarsipkan di bawah: sastra — by muhsonsuburan @ 3:31 am
Tags:

Monas

hanya diam

bergeming

FPI

bersemangat penuh

Lontarkan panji syariat

Tegakkan kemurnian Islam

Aliansi

Meronta histeris sadis

Mereka…terinjak terpukul terpojok

Mereka…geram penuh benci

Laksana melihat pembunuh saudaranya

Mereka…katakan apa yang dimengerti

Katakan apa yang dipahami

Mereka…menurutilantunan iblis

Lakukan pembalakan kemanusiaan

Hujamkan panah tombak pedang sekalipun

Atas dasar Islam

Aku tak mau islam mereka…aku tak mau

—Ngaliyan 090608—

Juni 2, 2008

teman-temanku

Diarsipkan di bawah: sastra — by muhsonsuburan @ 6:52 am
Tags:

Teman-temanku disana

mengerang kesakitan

Teraniaya

Terinjak-injak

Atas dalih kebenaran

Aqidah

Kemurnian ajaran

—ngaliyan02062008—

Tabung Semangat di Gudang Merdeka

Diarsipkan di bawah: sastra — by muhsonsuburan @ 6:32 am
Tags:

kawan...
Sendiriku ini sepi
Pikiranku yang mengambang...mengawang...
Semangat terpompa
Entah angin apa yang merasuki
udara tiada terlihat
Olehku...oleh kawan-kawan
Tuk mengisi semangat itu
Tabung kebangkitan yang ditempa
Pukulkan lempengan duka
Cairkan tawa...meleleh menduka
Mereka kibaskan darah air mata
Baktikan jantung mereka
Meski tahu...
mereka hanya punya satu
Tujuan mereka hanya satu !
Tujuan mereka hanya satu !

Bebas...Merdeka
Tapi...
Tabung itu sekarang berkarat
Bocor malah
Tabung itu hanya penghuni gudang merdeka
Tempat tikus bersantai ria
Karna tikus itu kepala gudang merdeka
Kucing hanyalah pengusir kecoa, semut dan laba-laba kalau mungkin
Kasihan mereka
Kecoa, semut dan laba-laba
Mereka hanya cari makan
Toh mereka juga ngasih pajak
Kenapa tak kau buatkan gudang-gudang merdeka yang lain wahai tikus
Setiap hari aku mendengar tangis
Doa yang meronta
Atau suara leher nan dalam
Karna makanan mereka roti kasar bagai batu yang digiling
Kau tak mendengar dari kendaraanmu yang untuk membelinya
Aku tak bisa hitung berapa jumlah nolnya
Para penempa tabung menangis darah
mereka kecewa
dalam benak tanpa jasad
"Lebih baik dulu tak kubuat tabung itu "

–suburan 26052008–

Didukung oleh WordPress.com